Sejarah Pagar Nusa Kota Depok
Sejarah Pagar Nusa Kota Depok sudah dimulai jauh sebelum kepengurusan resmi terbentuk. Pada masa awal, latihan silat dilakukan secara individual oleh para pendekar yang sebagian besar berasal dari Jawa. Mereka mengajarkan pencak silat di lingkungan sekitar, sering kali secara sembunyi-sembunyi karena keterbatasan dukungan dan struktur organisasi.

Titik awal pengorganisasian dimulai pada tahun 2012, ketika terbentuk kepengurusan Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Kota Depok secara struktural. Di bawah kepemimpinan Kang Rion Rusmadi (periode 2012–2017), perjuangan benar-benar seperti membabat hutan belantara. Jumlah pesilat dan pengurus masih sangat terbatas, sementara tantangan dan hambatan datang dari berbagai sisi. Di masa ini, Pagar Nusa belum berkembang secara signifikan, namun pondasi awal telah mulai dibangun.

Periode 2017-2022
Periode penting berikutnya datang pada masa kepemimpinan Ki Hartono (periode 2017–2022). Di era inilah sejarah Pagar Nusa Kota Depok mencatat langkah besar. Latihan silat mulai dilakukan secara terbuka di berbagai tempat. Pesantren-pesantren seperti Qotrun Nada, Al Karimiyah, dan Sirojussaadah menjadi basis utama latihan. Selain itu, beberapa tempat umum seperti Sukamaju dan KSU juga mulai membuka latihan secara resmi.
Tidak hanya jumlah tempat latihan yang bertambah, para pesilat Pagar Nusa juga mulai aktif mengikuti kejuaraan-kejuaraan resmi yang diselenggarakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Masa ini menjadi tonggak awal eksistensi Pagar Nusa di Kota Depok sebagai kekuatan bela diri yang tidak hanya religius tetapi juga kompetitif.
Periode 2022-2027

Tahun 2022 menjadi titik kulminasi kebangkitan Pagar Nusa kota Depok. Kang Eko Mustopa yang terpilh dalam Konfercab II, sebagai ketua PC Pagar Nusa kota Depok (periode 2022-2027), mulai tancap gas. Diawali dengan penguatan structural organisasi dan Analisa SWOT mulai melakukan berbagai gebrakan. Melalui RAKERCAB (Rapat Kerja Cabang), beberapa Pogram Kerja (Proker) disusun untuk mencapai target yang diinginkan.
Konsolidasi internal menghasilkan program ToT (Training of Trainer) Pelatihan Pelatih untuk meningkatkan kualitas pelatih. UKT (Ujian Kenaian Tingkat) dilaksanakn untuk meningkatkan kualitas santi/siswa. Koordinasi dengan PCNU sebagai induk organisai diperkuat. Kerjasama dengan instansi, sekolah, Lembaga digalakkan. Menghasilkan pembukaan tempat Latihan baru yang kian marak. Kegiatan social, seperti donor darah, penanaman pohon, pengobatan masal menjadi kegiatan ekstra yang membuat Pagar Nusa makin popular. Bahkan penyelenggaran kompetisi / Kejuaraan. Dan keaktifan dalam mengikuti kejuaraan dengan banyaknya prrestasi yag diraih semakin meningkatkan atusias masyarakat.
