Penuh Haru dan Khidmat, Puluhan Peserta Ikuti Uji Kenaikan Tingkat Pagar Nusa Cilodong, Ditutup dengan Prosesi Membasuh Kaki Orang Tua
Cilodong – Tangis haru dan rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Uji Kenaikan Tingkat (UKT) Pagar Nusa PAC Cilodong yang digelar pada Sabtu, 30 Mei 2026, di lingkungan MI Irsyadul Athfal, Cilodong, Kota Depok. Sebanyak 86 peserta dari berbagai ranting dan rayon mengikuti kegiatan yang menjadi bagian penting dalam proses pembinaan kader dan pendekar muda Nahdlatul Ulama tersebut.
Sejak pagi hari, suasana khidmat sudah terasa di lokasi kegiatan. Para peserta mengenakan seragam kebanggaan Pagar Nusa dengan penuh semangat dan kesiapan mengikuti seluruh rangkaian ujian. Bagi mereka, UKT bukan sekadar pengujian teknik bela diri, melainkan momentum untuk mengukur kedisiplinan, mental, akhlak, serta kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan para ulama yang diwariskan melalui Pagar Nusa.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua PC Pagar Nusa Kota Depok, Ustadz Eko Mustopa, Ketua MWC NU Cilodong Ustadz Abdul Muhyi, jajaran PAC Muslimat NU Cilodong, serta Pembina Pagar Nusa Cilodong H. Muhammad Yamin. Kehadiran para tokoh Nahdlatul Ulama tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta yang tengah menapaki proses pembentukan diri sebagai pendekar yang berakhlakul karimah.
Dalam sambutan pembukaan, Ketua PAC Pagar Nusa Cilodong, Raden Firmanto Ary Rachmadi, menegaskan bahwa Uji Kenaikan Tingkat merupakan sarana pendidikan karakter yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan fisik semata.
“Hari ini bukan hanya tentang naik tingkat atau mendapatkan sabuk yang lebih tinggi. Hari ini adalah momentum untuk membuktikan kesungguhan dalam belajar, kedisiplinan dalam berlatih, serta keikhlasan dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama. Seorang pendekar Pagar Nusa tidak diukur dari kuatnya pukulan atau tingginya tendangan, tetapi dari akhlaknya kepada guru, baktinya kepada orang tua, dan manfaatnya bagi masyarakat.”
H. M Yamin sebagai Pembina PAC Cilodong mengajak seluruh peserta untuk menjadikan setiap proses latihan sebagai jalan perjuangan dan ibadah.
“Kenaikan tingkat adalah amanah. Semakin tinggi tingkat seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga nama baik Pagar Nusa, menghormati para ulama, serta menjadi teladan di tengah masyarakat. Saya berharap seluruh peserta mengikuti UKT ini dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.”
Rangkaian ujian berlangsung dengan tertib dan penuh semangat. Para peserta diuji dalam berbagai materi, mulai dari teknik dasar, jurus, ketahanan fisik, hingga pemahaman nilai-nilai ke-Pagar Nusa-an. Dukungan dari para pelatih, orang tua, dan pengurus menambah semangat para peserta untuk menampilkan kemampuan terbaik mereka.

Namun, puncak acara yang paling membekas justru terjadi di penghujung kegiatan. Dalam suasana yang penuh keheningan dan kekhusyukan, para peserta diminta untuk duduk di hadapan orang tua masing-masing. Satu per satu mereka membasuh kaki ayah dan ibu sebagai simbol penghormatan, cinta, dan bakti kepada orang tua yang selama ini telah mendampingi perjalanan mereka.
Tak sedikit peserta yang meneteskan air mata saat mencium kaki dan memeluk orang tuanya. Para ayah dan ibu pun larut dalam haru, menyaksikan anak-anak mereka tumbuh bukan hanya menjadi pendekar yang kuat, tetapi juga pribadi yang memahami arti hormat dan kasih sayang kepada orang tua.
Suasana semakin menggetarkan ketika doa bersama dipanjatkan. Isak tangis terdengar di berbagai sudut ruangan, menciptakan momen yang begitu mendalam dan sulit dilupakan oleh seluruh yang hadir. Prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa inti dari pendidikan Pagar Nusa bukan sekadar mencetak atlet atau pesilat berprestasi, tetapi melahirkan generasi yang berakhlak mulia, menghormati guru, dan berbakti kepada kedua orang tua.
Pelaksanaan UKT Pagar Nusa PAC Cilodong tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa tradisi pendidikan karakter yang diwariskan para ulama Nahdlatul Ulama terus hidup dan berkembang. Di tengah perkembangan zaman, Pagar Nusa tetap teguh menjaga jati dirinya sebagai wadah pembentukan generasi muda yang kuat jasmani, tangguh mental, serta luhur budi pekerti.
Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya membawa harapan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi, tetapi juga membawa pesan moral yang akan terus mereka ingat sepanjang hidup: setinggi apa pun ilmu dan kemampuan yang dimiliki, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.
