Menembus Batas di Gunung Ciung: Menguak Gemblengan Lahir Batin UKT Sabuk Merah Pagar Nusa PAC Tapos
BOGOR – UKT (Ujian Kenaikan Tingkat) dalam Pagar Nusa bukanlah sekadar ritual formalitas tahunan. Ia adalah kawah candradimuka, sebuah proses sakral pembinaan kader pendekar yang tidak hanya menguji ketangguhan fisik dan ketajaman teknik, tetapi juga menggembleng mental, akhlak, kedisiplinan, serta loyalitas tanpa batas terhadap agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Semangat membara inilah yang mendasari Pagar Nusa PAC Tapos saat menggelar UKT Sabuk strip Merah selama dua hari penuh, Sabtu hingga Minggu (20–21 Juni 2026). Mengambil lokasi di alam terbuka Gunung Ciung, Sentul, Bogor, kegiatan ini menjadi saksi bisu lahirnya para pendekar yang siap naik kelas, baik secara keilmuan maupun spiritual.
Pesan Tegas dari Pimpinan: Menjaga Kiai dan NKRI
Acara dimulai dengan upacara pembukaan khidmat yang dihadiri oleh jajaran pengurus PC Pagar Nusa Kota Depok Ustadz Eko Mustopa, Ketua PAC Pagar Nusa Tapos H. Shobirin, Sekretaris PAC Tapos Ustadz Rosadi, Kang Luthfi Pelatih Utama Pagar Nusa PAC Tapos, serta dihadiri juga PAC Cilodong Raden Ary firmanto ketua dan Pak Joni Suhendra wakil ketua PAC Cilodong, serta MWC NU Tapos Ustadz Didin Muhidin, M. Pd. Di bawah langit Sentul, wejangan berbobot disampaikan oleh para pimpinan untuk membakar semangat peserta.
Dalam sambutannya, Ketua PC Pagar Nusa Kota Depok, Ustadz Eko Mustopa, menegaskan pentingnya ideologi di atas kekuatan fisik.
“Sabuk merah bukan untuk gagah-gagahan. Warna merah itu lambang keberanian yang terukur. Berani membela kebenaran, berani menjaga para kiai, dan berdiri tegak mengawal NKRI. Di sabuk merah ini, loyalitas kalian kepada Nahdlatul Ulama sedang dipertaruhkan,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PAC Pagar Nusa Tapos Ustadz H. Shobirin, S.Sos. memberikan pesan penguat yang menyentuh esensi seorang pendekar.
“Kedisiplinan adalah kunci keberhasilan seorang pesilat. UKT bukan sekadar kenaikan tingkat, tetapi proses pembentukan karakter, akhlak, dan komitmen untuk terus belajar serta mengamalkan nilai-nilai Pagar Nusa,” ujarnya menyemangati.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua MWC NU Tapos, Ustadz Didin Muhidin, M.Pd, mengapresiasi pelaksanaan UKT di alam terbuka yang dinilai sangat baik untuk membangun karakter kader muda Nahdlatul Ulama.
“Pagar Nusa merupakan salah satu wadah strategis dalam mencetak kader-kader NU yang tangguh, berakhlakul karimah, dan cinta tanah air. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap lahir generasi penerus NU yang siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat,” tuturnya.
Hari Pertama: Uji Otak dan Penguasaan Jurus
Usai pembukaan dan pemanasan fisik untuk memompa adrenalin, para peserta langsung dihadapkan pada ujian yang menguras pikiran. Pagar Nusa tidak membiarkan pendekarnya kosong secara intelektual. Sesi ujian ke-NU-an, wawasan kebangsaan, dan ke-Pagar Nusa-an menjadi menu wajib. Di sini, pemahaman mereka tentang Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan cinta tanah air dikupas tuntas.
Setelah selesai uji pengetahuan, barulah menutup malam itu, pelataran Gunung Ciung diguncang oleh hentakan kaki dan kibasan tangan para peserta. Sesi ujian jurus menjadi penutup hari pertama, memastikan bahwa setiap gerakan yang mereka pelajari selama ini telah meresap ke dalam nadi.

Hari Kedua: Dinginnya Fajar, Hangatnya Istighosah, dan Ujian Tanding
Bagi mereka yang belum pernah merasakan UKT Sabuk Merah, malam di Gunung Ciung mungkin hanyalah malam biasa. Namun bagi para peserta, garis pembatas antara “anggota biasa” dan “pendekar sejati” dimulai di hari kedua.
Tepat pukul 03.00 dini hari, di saat kabut dingin menusuk tulang, para peserta sudah dibangunkan. Bukan untuk latihan fisik, melainkan untuk bersimpuh di hadapan Sang Pencipta dalam sesi Istighosah. Di tengah keheningan malam alam Sentul, lantunan zikir dan doa menggema, mengisi baterai spiritual mereka. Inilah rahasia mengapa pendekar Pagar Nusa begitu ditakuti lawan namun dicintai kawan: karena mereka memulai kekuatan dari sujud.
Setelah rohani diisi, barulah fisik dihantam. Pagi harinya, ujian fisik yang menguras sisa-sisa tenaga dimulai, menguji sejauh mana batas ketahanan tubuh mereka. Sebagai puncaknya, ketegangan memuncak pada sesi Ujian Tanding sesama peserta. Di dalam gelanggang, mereka saling berhadapan secara jantan—mengaplikasikan teknik, mengontrol emosi, dan mempraktikkan sportivitas tertinggi.
“Warna merah yang kalian sandang adalah darah perjuangan. Jangan pernah gunakan kemampuan ini untuk kesombongan. Ingatlah dinginnya malam saat kita beristighosah jam 3 subuh tadi; di situlah tempat kita bersujud dan menyadari bahwa kita ini kecil di hadapan Allah. Sabuk merah ini adalah titipan kiai, titipan Nahdlatul Ulama, dan titipan umat. Jaga marwahnya, jaga akhlak kalian di masyarakat,” tegas Kang Luthfi pelatih utama Pagar Nusa Tapos.
Mendengar petuah tersebut, rasa bangga bercampur haru membuncah di dalam dada para peserta. Mereka sadar, mereka bukan lagi sekadar anggota biasa yang berlatih di latihan ranting. Mereka kini telah bertransformasi menjadi kader inti, benteng hidup para ulama yang telah melampaui batas kemampuan diri mereka sendiri di kawah candradimuka Gunung Ciung.
